Minggu, 25 Desember 2011

Kemakmuran di Sebuah Pulau Terpencil, Pulau Karamaian, Masalembu

Berkat kerja keras, kemakmuran menyambangi penduduk Pulau Keramaian di Kecamatan Masalembu, Kabupaten Sumenep, Madura. Hampir semua warga perempuan di sana, sejak bayi sudah mengenakan emas dan berlian.

Berbeda dengan warga kepulauan terpencil lainnya, penduduk Pulau Keramaian di wilayah Kecamatan Masalembu, Kabupaten Sumenep, Madura, relatif makmur. Hampir semua warganya, khususnya perempuan, mengenakan perhiasan yang cukup mewah, mulai dari bayi hingga dewasa.


Kemakmuran penduduk di Pulau Keramaian tersebut tidak lepas dari anugerah alam yang cukup melimpah. Di dataran rendah dan pesisir pantai, mayoritas warganya bekerja sebagai nelayan. Hampir semua keluarga nelayan di wilayah pesisir memiliki perahu sendiri, sehingga tidak perlu menyewa pada orang lain. Di wilayah dataran tinggi, mayoritas penduduknya bekerja di perkebunan cengkih dan kelapa.

Menurut Alenina, salah seorang warga Dusun Sudimampir, Desa Keramaian, hampir semua keluarga memiliki perahu ikan. Biasanya untuk mencari ikan, satu keluarga berangkat dengan satu perahu. “Kami beli perahu ini Rp 35 juta,” kata Alenina yang ditemui SH di atas perahunya, akhir pekan lalu.

Kalau berangkat melaut rata-rata dalam satu perahu terdapat sepuluh orang. Berangkat pada malam hari, dan kembali ke darat pada siang hari. “Ikan-ikan yang kami dapat langsung dijual pada pengepul ikan di tengah laut, sehingga tidak perlu membawa ikan ke darat lagi,” paparnya.

Setiap melaut, rata-rata mereka bisa mendapatkan uang dari menjual ikan Rp 35 juta. Setelah dikurangi biaya operasional, rata-rata tiap orang mendapatkan Rp 3 juta dalam sehari. “Kalau musim bagus seperti ini, dua atau tiga hari sekali kami melaut. Tapi saat musim barat (ombak besar), kami bisa sampai dua minggu tidak melaut,” ungkapnya.

Bagaimana dengan warga yang hidup di dataran tinggi pulau tersebut? Kemakmurannya hampir sama. Sebab mereka juga mendapatkan hasil cukup besar dari menjual cengkih. Meskipun demikian, warga di di dataran tinggi relatif lebih tertutup terhadap warga pendatang atau tamu. “Pada saat panen cengkih, sudah banyak pengepul yang datang,” kata Rohim, tanpa mau menyebut berapa uang yang diterima saat panen tiba.

Kemakmuran masyarakat Pulau Keramaian selain dilihat dari emas dan berlian yang mereka kenakan di tubuhnya, juga berbagai barang elektronik yang ada di rumahnya. Meskipun demikian, barang elektronik seperti lemari es, televisi, dan lain-lain jarang mereka gunakan.

Sebab di desa tersebut belum dialiri listrik dari PLN. Untuk kebutuhan listrik, dipasok melalui genset desa dengan kekuatan yang terbatas. Itu pun hanya menyala pada pukul 18.00 WIB hingga pukul 05.00 WIB. Selebihnya tidak ada aliran listrik.

Lambang kemakmuran lainnya adalah perlengkapan perahu mereka. Bagaikan kendaraan pribadi, perahu untuk mencari ikan pun dipasang pengeras suara (sound system) yang cukup canggih dengan suara menggelegar. “Biar saat mencari ikan tidak ngantuk,” tambah Alenina.

Hanya saja, kemakmuran penduduk tersebut tidak ditunjukkan pada rumah-rumah mereka. Rumah-rumah penduduk di pulau tersebut sangat sederhana, relatif kecil, dan dari kayu.

Ternyata warga memang tidak tertarik membangun rumah besar, sebab harga tanah di pulau tersebut relatif mahal jika dibandingkan dengan daerah lain. Untuk tanah di daerah pesisir, rata-rata harganya Rp 1,5 juta/meter persegi. Untuk daerah perkebunan di dataran tinggi lebih mahal lagi.

Di samping itu, bahan bangunan sulit didapatkan. Untuk belanja bahan bangunan mulai dari semen, pasir, batu bata, kayu lapis, dan lain-lain, warga harus belanja di Pulau Masalembu yang harus ditempuh lima jam perjalanan. Karena persediaan barang cukup langka, harganya relatif lebih mahal dibanding harga pasaran. Biaya transpornya juga sangat mahal untuk membawa bahan bangunan untuk sampai di Pulau Keramaian.

Tanpa Bantuan

Kemakmuran warga Pulau Keramaian dicapai berkat kerja keras mereka, bukan karena faktor fasilitas pemerintah. Buktinya, untuk membuat dermaga saja dari hasil gotong royong warga. Selain itu juga tidak ada tempat pelelangan ikan di sana karena warga langsung menjual ikan di laut.

Jalan desa pun merupakan jalan pasir, karena struktur pasir pantai tidak mungkin bisa diaspal. Dari 14 kilometer jalan desa di dalam pulau tersebut, sekitar 7 kilometer sudah dipaving dengan lebar sekitar 3 meter.

Demikian juga sarana kesehatan, hanya terdapat Puskesmas Pembantu dengan perangkat dua bidan dan dua perawat, tanpa dokter. Demikian pula sekolah, hanya ada SD negeri, madrasah ibtidaiyah (MI) swasta dan madrasah tsanawiyah (Mts) swasta. Di desa tersebut juga tidak ada pasar, sehingga kalau berbelanja, warga harus ke Pulau Masalembu yang ditempuh perjalanan selama lima jam dengan perahu.

Warga juga merasa ada suatu keajaiban di pulau tersebut, yakni air tanah yang bersih dan tawar, meski membuat sumur di dekat pantai. Selain itu, ada sumber air yang terus mengalir dari dataran tinggi.

“Jadi warga di sini selama ini memanfaatkan air tanah dan sumber air untuk kebutuhan sehari-hari. Bagi warga yang ingin menyalurkan sampai ke rumah, mereka beli pipa sendiri,” kata H Sahidan, salah seorang tokoh masyarakat Pulau Keramaian.
Print PDF

This post was submitted by Chusnun Hadi /SH.


Sumber :
http://www.lontarmadura.com/2011/10/kemakmuran-di-sebuah-pulau-terpencil-pulau-karamaian-masalembu/
02 Oktober 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar